BABELAN bekasitoday.com-Jajaran Kepolisian Sektor Babelan mengaku hanya jadi penengah dalam sengketa lahan yang berada di kampung pangkalan Rt 12/05, Desa Kedung Pengawas, Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi, seluas kurang lebih 24 hektare, yang terjadi pada Minggu (30/8) lalu.

"Kami hanya jadi penengah dalam sengketa lahan tersebut, dan kami berharap, kedua belah pihak untuk menunggu proses pengadilan, kalau sudah diajukan ke pengadilan, "ujar Kanit Intel Polsek Babelan kepada wartawan Senin (31/8).

Dan kalau ada dari mereka yang membawa senjata tajam, siapapun orangnya kita akan tindak sesuai hukum yang berlaku.

"Disini kami tidak membedakan dari kubu mana mereka, kalau didapati membawa senjata tajam, kami akan tindak sesuai hukum, "tegasnya


Sebelumnya, puluhan petani penggarap tanah yang berada di Kampung Pangkalan RT012/05 Desa Kedung Pengawas, Kecamatan Babelan seluas 24 hektare yang digarap oleh 18 orang petani, menuai kontrovesi. Pasalnya, tanah tersebut mempunyai dua kepemilikan, yang dimana masing-masing pemilik memiliki surat-surat.

Salah seorang Petani sekaligus penggarap Sain (62), dari pihak pemilik Boy Agus sangat menyesali tindakan oknum keamanan dari salah satu pemilik surat juga bernama Sanusi, yang melarang petani untuk menggarap lahan tersebut. Kepemilikan Ganda tersebut, menyengsarakan nasib para penggarap.

"Seharusnya petani ini tidak dilarang untuk menggarap, karena memang penghasilan kami dari hasil garapan tanah tersebut, "ujarnya Minggu (30/8).

Petani yang kian terlanjur sudah menyebar bibit padi untuk ditatami tidak bisa berbuat banyak, karena lahan tersebut kini telah diacak-acak menggunakan buldoser oleh pihak Sanusi dengan menggunakan orang-orang keamanannya.

"Manah sawah kita mau nandurin, Jum'at kemarin malah sawah garapan kita diacak-acak doser, kita menggarap sudah puluhan tahun pak, "jelasnya.

Kedua pemilik tersebut kini saling melapor dan saling menggugat. Selama masa gugatan petani berharap agar lahan tersebut bisa ditanami bibit-bibit padi yang sudah disebar oleh petani.

"Ini kan masih proses hukum, ya kami berharap selama proses hukum berjalan, tanah ini kita garap, karena kami sudah terlanjur menyebar bibit, "terangnya.

Sementara keamanan lahan dari pihak pemilik Sanusi, Darta (34) mengatakan, jangan selalu menyalahkan pihak keamanan, karena pihak keamanan ditugaskan untuk mengamankan lahan tersebut.

"Seharusnya pada penggusuran lahan pertanian pihak bos (Boy Agus, red) penggarap muncul dalam permasalahan ini, belain lah penggarapnya, jangan hanya diam saja," jelasnya.

Kita disini hanya jalanin tugas dari pimpinan, dan kita disini untuk menjaga lahgan jangan sampai digarap oleh petani.

"Kita hanya menjalankan tugas, karena ini bukan tanah kita, kalau saya kan tugas hanya kerja, apapun bentuknya itu jangan coba-coba untuk menggarap, "ungkapnya.

Jika memang pihak penggarap atau pemilik Boy Agus merasa terintimidasi, silakan saja kongkritkan data-data dari sesama pemilik lahan yaitu Sanusi di Meja Hijau, karena keamanan dan penggarap hanya orang lapangan.

"Kalau memang Boy ada SHM, adu data saja dengan Sanusi di Meja Hijau, biar gak nyusahin orang lapangan, "pungkasnya.(red/ind)
Bagikan:

Beri komentar:

0 komentar, berikan komentar Anda.