TARUMAJAYA bekasitoday.com-Karena dalam upaya mediasi, PT Multi Karya Prima hanya menawarkan uang kerohiman kepada pemilik tanah, yang lokasinya ada di kawasan industri dan pergudangan Marunda Center. Sukra Bin Meran (86) pemilik tanah siap melanjutkan rencana aksi unjuk rasa disertai aksi penguasaan fisik di atas bidang tanahnya, yang digunakan untuk perluasan dan pengembangan Kawasan Industri dan Pergudangan Marunda Center, yang terletak di Desa Pantai Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Sukra Bin Meran ketika dihubungi media mengaku merasa kecewa, mengingat hasil dari pertemuan dengan pemilik Kawasan Marunda Center hanya menawarkan uang kerohiman dan bukan pembayaran. Dirinya merasa aneh atas sikap pemilik Kawasan Marunda Center yang ingin membebaskan bidang tanah miliknya hanya dengan uang Kerohiman.

"Saya sudah lakukan berbagai upaya untuk membuktikan kepemilikan tanah tersebut, saya juga berani dilaknat oleh Allah SWT bila saya berkata bohong, "ujarnya seperti yang pernah dilontarkan kepada Kepala Pertanahan Kabupaten Bekasi, saat pertemuan tertutup di Gedung ATR/BPN Kabupaten Bekasi, belum lama ini, Minggu (12/8).

Dirinya akan melaknati tujuh turunan siapapun yang berani merampas tanah saya. Pasalnya adanya pernyataan dari Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bekasi bahwa timbulnya sertifikat HGB 51 milik PT Multi Karya Hasil Prima tidak ada kaitannya dengan Sukra Bin Meran maupun Girik C 227/127 pada pertemuan yang dihadiri oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bekasi, Deni Santo dan staf kantor Presiden, Ir. Tjahyo, baru-baru ini.

"Artinya pernyataan BPN Kabupaten Bekasi berdasarkan warkah yang dibacanya telah membuktikan bahwa bidang tanah Sukra Bin Meran tidak termaksud di dalam sertifikat HGB 51. Itu berarti PT Multi Karya telah merampas tanah milik saya, "terang pria paruh baya yang akrab di sapa Engkong Sukra.

Atas dasar tersebut, Umi Sumiati Putri kandung Engkong Sukra berencana mewujudkan keinginan orang tuanya untuk segera melakukan gerakan aksi unjuk rasa dan penguasaan fisik. Gerakan aksi tersebut, menurut wanita yang pernah mendapat penghargaan Paramakarya oleh Presiden Jokowi diakui mendapat berbagai dukungan baik dari keluarga maupun Forum Korban Mafia Tanah Indonesia (FKMTI), Tim Pemilik dan ahli waris yang tergabung dalam barisan reformasi 45.

"Dengan aksi ini semoga saja banyak mata yang melihat dan dapat perlindungan hukum, bukan malah sebaliknya kami yang harus berbenturan dengan hukum. Silahkan Marunda Center menggugat kami di pengadilan bila berkeberatan dengan aksi penguasaan fisik di atas tanah milik kami sendiri. Kenapa kami yang jadi disibukan dengan pelaporan, pantaslah banyak yang putus asa karena energi mereka habis oleh waktu, pikiran dan biaya lalu akhirnya pasrah dengan uang kerohiman yang mereka tawarkan, "papar Sumi yang berencana membangun pusat Batik Kabupaten Bekasi di atas tanah tersebut.(*).

Penulis : dn
Bagikan:

Beri komentar:

0 komentar, berikan komentar Anda.